Gelar Kebaktian Regional Saksi Saksi Yehuwa 2018 Jabodetabek di ICE BSD

marsingar.com, JAKARTA – Saksi-Saksi Yehuwa seluruh dunia siap mengadakan rangkaian kebaktian tahunan mereka di seluruh dunia mulai Mei 2018. Dan di Indonesia dilaksanakan di beberapa kota kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makasar dan kota kota lainnya. Tema tahun ini adalah ”Jadilah Berani!” . Sebelum acaranya berlangsung, para Saksi di seluas dunia akan melakukan kegiatan khusus untuk mengundang orang-orang ke acara ini. Kebaktian ini diadakan di 180 negeri, dan semua orang bisa hadir tanpa dipungut biaya.

Saksi-saksi Yehuwa, kali ini kembali menggelar Kebaktian Regional 2018 Jakarta yang diselenggarakan sejak 17 Agustus hingga 19 Agustus 2018.
Acara kebaktian rohani yang diselenggarakan setiap tahun nya itu, kali ini bertempat di ICE BSD.

Pengawas Layanan Berita, Paul M. Affidon, mengatakan bahwa sejak beberapa minggu sebelumnya pihak panitia juga telah menyebarkan undangan ke berbagai pihak.

“Kegiatan ini terbuka untuk umum, tidak ada pungutan biaya dan kolekte apa pun. Mereka bisa mendengar yang dibahas oleh para penceramah soal apa yang dibutuhkan masyarakat. Misalnya bagaimana menjadi keluarga yang lebih baik, bagaimana menjadi anggota masyarakat yang lebih baik,” katanya.

Dalam puncak acara Minggu 19 Agustus 2018, Paul menyampaikan bahwa ada sekitar 11.645 orang hadir mengikuti acara tersebut, mereka berasal dari berbagai Daerah di Jabodetabek.
Saksi Yehuwa sendiri adalah orang Kriten yang berupaya menjalankan nasihat Alkitab dalam segala aspek kehidupan.

Kebaktian ini berlangsung selama tiga hari. Acaranya terdiri dari 54 bagian yang mencakup ceramah, drama audio, wawancara, dan video singkat. Selain itu, pada hari terakhir acara kebaktian ada pemutaran film berjudul Kisah Yunus—Pelajaran tentang Keberanian dan Belas Kasihan. Setiap hari, sesi pagi dan siang diawali dengan video musik yang disiapkan khusus untuk kebaktian ini.

“Saksi Yehuwa berasal dari segala lapisan masyarakat, mereka tidak mengucilkan diri dari orang-orang yang tidak seiman. Mereka hidup, bekerja, dan bersekolah dengan orang-orang dari berbagai agama,” kata Paul menjelaskan. (tim)